Lebih dari seabad lalu, Morgan Shuster pernah berseloroh menyebut politik Iran seperti Opera Bouffe.
Sebuah opera dengan para pemain yang gonta-ganti kostum begitu cepat
dan tidak mudah ditebak. Bagi saya banker Amerika itu tidak sedang
bercanda. Ia serius di tengah kebingungannya menganalisis Iran. Itu
bukan hanya menimpa Shuster. Betapa banyak para analis dan politikus kecele.
Mungkin, Jimmy Carter perlu ditanya sekedar mengingatkan tentang
prediksinya yang meleset mengenai Iran. Lebih dari tiga dekade silam,
ketika kedutaan AS di Tehran diduduki para mahasiswa, sang Presiden
Paman Sam itu pernah sesumbar, "Tehran akan kita kuasai dalam hitungan
jam." Dan Pentagon pun mengirimkan pasukan elit militer terbaiknya dari
kapal induk yang diparkir di salah satu negara Arab.
Pada tanggal 25 April 1980, Amerika Serikat melakukan operasi militer dengan sandi Eagle Claw (kadang-kadang disebut juga operasi Blue Light)
ini menggunakan Hercules C-130, jenis pesawat tercanggih kala itu.
Tapi, tim militer yang dibanggakan tersebut luluh lantak dihantam badai
di Tabas, Iran Tengah. Sisanya, melarikan diri tunggang langgang. Misi
Gedung Putih gagal, Carter pucat pasi. Amerika merana dipermalukan
sebuah negara kecil yang baru saja mendeklarasikan sistem kenegaraan
barunya.
Gagal menjalankan operasi militernya
sendirian, Washington tidak kehilangan akal. Diktator Irak Saddam
Hussein diprovokasi untuk menginvasi Iran. AS pun memasok kebutuhan
militer pemimpin rezim Baath Irak itu. Tapi prediksi Barat kembali
meleset. Alih-alih bertekuk lutut dan menyerah, Iran dengan bendera
barunya "Republik Islam" yang baru seumur jagung justru memberikan
perlawanan telak terhadap rezim Saddam Irak yang dibantu negara-negara
Barat dan Arab.
Segala cara ditempuh AS untuk
menumbangkan Iran yang mengusung Islam sebagai sistem kenegaraannya.
Dari operasi militer, lalu meminjam tangan negara tetangga Teheran,
hingga mensponsori organisasi teroris semacam Jundullah dan MKO yang
terlibat berbagai aksi teror di Iran, semua sudah dilakukan. Tapi tetap
saja gagal. Dan kini, AS memfokuskan serangannya pada embago ekonomi.
Sejumlah ekonom Barat memandang langkah ini akan membuat Iran kelabakan.
Dengan menutup akses finansial internasional, mereka mengira bisa
menghentikan program nuklir Iran. Tapi, Teheran menegaskan tidak akan
menghentikannya. "Ini harga mati bung !", kata seorang warga Iran.
Sampai kini pun diskursus akademis tentang Iran bertumpu pada
pertanyaan mengapa Iran bisa resisten menghadapi gelombang deras tekanan
sanksi internasional. Setidaknya ada empat paradigma melihat masalah
tersebut.
Pertama, paradigma ekonomi-politik yang
melihat daya resistensi Iran disebabkan adanya sumber daya energi yang
sangat besar di negara itu. Betapa tidak, Iran menguasai 12 persen
cadangan minyak dunia, dan 17 persen cadangan gas alam dunia.
Perekonomian Iran sangat bertumpu pada pendapatan penjualan minyak.
Selama emas hitam itu masih mengalir di bumi Persia, maka negara itu
akan tetap bertahan.
Paradigma ini dianut banyak
kalangan. Washington melancarkan sanksi minyak terhadap Teheran untuk
melumpuhkan perekonomian Iran. Tidak hanya itu, AS mengendalikan
transaksi finansial internasional dengan membatasi transaksi antara
perbankan Iran dan negara lain untuk menyetop pasokan minyak mentah dari
Iran ke negara lain.
Tapi menyebut faktor ekonomi
politik, terutama sumber daya energi yang melimpah di Iran sebagai
faktor resistensi Iran menghadapi sanksi, memiliki sejumlah kelemahan.
Benar bahwa faktor ekonomi terutama kekayaan sumber daya alam memberikan
pengaruh bagi keberlanjutan sebuah bangsa dan negara. Tapi, ini bukan
basis, hanya salah satu faktor yang berdampingan dengan variabel
lainnya. Sebab faktor ini masih bergantung pada basis utamanya.
Selain itu, sejumlah negara yang tidak disanksi internasional
sebagaimana Iran dan punya sumber daya alam yang melimpah, ternyata
tingkat kesejahteraan rakyatnya tidak begitu membanggakan. Zimbabwe
misalnya, negara itu berada di urutan termiskin di dunia bersama
sejumlah negara Afrika lainnya. Selain mengandalkan pertanian seperti
kapas, dan tembakau, serta industri tekstil, negara itu memiliki
cadangan emas dan platinum.
Zimbabwe merupakan satu
negara dengan catatan rekor inflasi tertinggi di dunia, bahkan pernah
mencapai 11,2 juta persen pada Agustus 2008. Zimbabwe juga dikenal
sebagai negara yang pernah mengeluarkan pecahan mata uang terbesar di
dunia, yakni 100 miliar dolar Zimbabwe.Realitasnya, masalah utama di
negara ini bukan soal sumber daya alam, tapi lebih pada tat kelolanya.
Konflik internal kerap menjadi masalah besar di "negara gagal" seperti
itu.
Fenomena yang sama terjadi di Indonesia yang
tidak disanksi. Meskipun tidak memiliki minyak yang melimpah seperti
Iran, Indonesia memiliki sumber daya alam seperti emas yang termasuk
terbaik di dunia. Namun emas yang melimpah di Papua itu dikeruk oleh
korporasi asing yang sangat merugikan kepentingan nasional bangsa
Indonesia sendiri. Kebanyakan rakyat pun tidak menikmati hasilnya.
Kesenjangan sosial semakin menjulang. Pembangunan pun berjalan lambat.
Segelintir orang dan korporasi asinglah yang menikmati manisnya.
Meletakkan mana yang lebih utama, apakah ekonomi sebagai basis ataukah
politik. Namun tetap saja dengan keduanya itu tidak bisa menemukan akar
masalahnya. Paradigma pertama ini tidak mampu menggali basis kekuatan
Iran hingga bisa resisten menghadapi sebuan asing.
Memandang Iran dengan kacamata Markantilisme, Liberalisme maupun
Marxisme di ranah ekonomi politik justru akan mereduksi basis kekuatan
ekonomi politik Iran yang sebenarnya. Sebab ketiganya itu bertumpu faham
Materialisme yang tidak memberi ruang bagi peran spiritualitas dalam
ekonomi dan politik. Meskipun memiliki sejumlah kritik, tapi cara
pandang ini sangat detil sehingga paling diterima di kalangan akademis
dari paradigma lainnya.
Kedua, paradigma
ideologis-teologis memandang kekuatan resistensi Iran menghadapi sanksi
internasional timbul dari faktor agama yang dianut mayoritas masyarakat,
dan dilembagakan dalam bentuk institusi negara berbentuk Republik
Islam. Dukungan lebih dari 98,2 persen suara rakyat Iran dalam
referendum untuk menentukkan dasar negara lebih dari tiga dekade silam
menunjukkan besarnya dukungan keyakinan keagamaan rakyat terhadap
Republik Islam. Komitmen kolektif inilah yang menjadi kekuatan utama
Iran dalam mewujudkan cita-citanya di tengah berbagai tekanan.
Dahulu, tiga puluh tiga tahun yang lalu, kekuatan teologis pula yang
menjadi spirit bangsa Iran menumbangkan rezim despotik Shah Pahlevi.
Sebelumnya, sebuah fatwa seorang otoritas keagamaan semacam Ayatullah
Shirazi bisa melumpuhkan kolonialisme Inggris. Sebuah fatwa haram
tembakau yang dikeluarkan Ayatullah Shirazi ketika itu mampu
meluluhlantakan imperialisme ekonomi yang begitu mengakar lewat pasar
tembakau Inggris di Iran.
Dalam perjalanannya,
kekuatan imanlah yang membawa orang-orang Iran yang sebagian besar
anak-anak muda maju ke medan perang melawan invasi Irak, dalam perang
yang mereka sebut "Pertahanan Suci" selama delapan tahun. Seorang
Hussein Fahmideh yang masih belia rela meregang nyawa digaris depan
pertempuran demi membela bangsa dan negaranya dari serangan musuh. Saat
inipun, spirit religiuslah yang membuat rakyat Iran tegar menghadapi
berbagai gelombang yang menghantam.
Paradigma kedua
ini menukik lebih dalam dari yang pertama, karena berhasil mengungkap
pengaruh faktor-faktor non materi dalam menemukan basis resistensi Iran
menghadapi badai serangan. Kelebihannya bisa merumuskan soft power
dengan menurunkan nilai-nilai normatif. Namun kekurangan paradigma ini
terletak pada sisi normativitasnya yang general, berhadap-hadapan, dan
dalam beberapa bagian cenderung apologetik dan acapkali hitam putih.
Ketiga perspektif
kultural yang melihat faktor budaya dan peradaban sebagai basis
kekuatan Iran dalam menghadapi beragam tekanan asing. Warisan budaya dan
peradaban Persia yang kaya menjadi modal bagi Iran untuk berdiri tegar
di tengah badai serangan musuh. Khazanah kebudayaan dan peradaban Persia
dan Islam di Iran menjadi sebuah modal dasar yang penting bagi bangsa
Iran dalam meraih kemajuan di pusaran sanksi yang semakin masif.
Paradigma ini mampu menangkap soft power
Iran tentang mentalitas yang menjadi kekuatan utama dan modal
terbesarnya. Perspektif ini juga mengorek upaya pemerintah Iran untuk
menumbuhkan nilai-nilai kolektif sebagai modal dasar berbangsa dan
bernegara demi kepentingan nasional. Sejumlah karya Faucault tentang
Iran menggunakan perspektif ini. Paradigma tersebut memberikan pengayaan
pada dua pendekatan sebelumnya. Tapi pendekatan ini juga memiliki
sejumlah kelemahan. Asumsi teoritis dalam frame kebudayaan dan peradaban
yang dipahami peneliti terkadang mempengaruhi cara bacanya terhadap
objek. Misalnya ketika Faucault menyebut Revolusi Islam menghantam
struktur modernisme, dia melihatnya dari kacamata seolang Postmodernis
yang mengkritik apapun tentang Modernisme.
Keempat,
paradigma filosofis bekerja memberikan peta tentang masalah yang
dihadapi. Pendekatan yang digunakan adalah perspektif filosofis. Cara
kerjanya seperti helikopter yang melihat dari atas dan memotret masalah
dalam kacamata universal. Jika paradigma pertama dan ketiga mengadopsi frame work
tertentu yang masuk dalam disiplin ilmu, perspektif keempat ini justru
berupaya melepaskan dan membebaskannya. Misalnya, paradigma
ekonomi-politik tidak memberi ruang pada dimensi non-materi seperti
spiritualitas dalam ekonomi dan politik. Begitu juga, paradigma
filosofis melepaskan bias pada asumsi teologis paradigma kedua yang
melihat masalah dalam dimensi hitam putih dari kacamata mazhab.
Sumbangsih penting paradigma keempat bagi paradigma budaya adalah
mengeluarkan asumsi-asumsi sosial semacam teori sosiologi Comte, dan
lainnya yang cenderung positivistik dalam memandang fenomena budaya.
Selain itu, paradigma filosofis bisa menjangkau basis pemikiran yang
lebih dalam dari ketiga paradigma lainnya. Perspektif ini juga bertugas
menembus realitas menyingkap sekat-sekat yang tertutup keangkuhan teori
Mainstream dalam disiplin ilmu. Kekurangan paradigma ini adalah pada
cara pandangnya yang general dan tidak detil. Berhenti pada pada
paradigma keempat ini hanya akan membawa kita pada menara gading.
Sejatinya, setiap paradigma memiliki kekurangan dan kelebihannya
masing-masing. Yang perlu dilakukan saat ini adalah menerapkan
pendekatan integralistik dengan meletakkan masing-masing pada kavlingnya
sendiri-sendiri. Paradigma integralistik ini pernah diulas dalam bentuk
yang hampir mirip oleh Muthahhari dalam karyanya, "Jahan Bini Islam" (Pandangan Dunia Islam)".
Pada kasus resistensi Iran menghadapi berbagai tekanan Barat, analisis
dilakukan dengan menggali fakta-fakta ekonomi, politik budaya dan
teologis. Tugas filsafat merangkai dan merumuskan basis pijakan
universal dari ketiga paradigma itu. Rumusan nilai-nilai teologis yang
normatif dan karakter budaya nasional Iran berbijak di atas fondasi
"Nasionalisme Religius". Inilah sumbangan pendekatan integralistis dalam
memandang Iran. Jika Shuster bicara tentang fragmen Opera Bouffe
yang membingungkan, pendekatan integralistik melihat skenario dari awal
hingga akhir, bukan hanya kostum atau akting para pemainnya saja yang
gonta-ganti dan berpindah-pindah. Bak Opera Bouffe, memandang
Iran sepenggal-penggal hanya akan melahirkan analisis yang menjerat dan
membingungkan. Paradigma integralistik menawarkan solusinya.(IRIB
Indonesia/PH)
betul sekali ulasannya mas, memang kekuatan softpower iran bertumpu dari nilai nilai islam dgn warisan budaya persia yang kaya akan ilmu pengetahuan digabungkan dgn semangat nasionalisme...mngkin di dunia ini tidak ada negara yg sanggup diembargo ekonomi selevel embargo iran yg masih bisa bertahan bahkan meningkatkan kualitas kehidupan rakyatnya dan bahkan meningkatkan kecepatan pertumbuhan ilmu pengetahuan di Iran
BalasHapus