Tampilkan postingan dengan label IRAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IRAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Maret 2013

INILAH PRESIDEN TERMISKIN DI DUNIA!




Sebagai seorang pemimpin sudah tentu ia akan dilimpahi dengan harta kekayaan dan kemewahan. Namun tahukah anda terdapatnya seorang presiden yang digelar sebagai presiden termiskin di dunia.
Seorang presiden umumnya hidup penuh dengan kekayaan dan nikmat dengan pelbagai fasiliti dan kemudahan yang diberikan. Namun percaya atau tidak, hal ini berbeza terhadap dengan seorang presiden ini. Beliau telah mendapat sebuah gelaran dari rakyatnya sebagai ‘presiden paling miskin di dunia‘. Presiden itu bukan di Malaysia, tetapi Dialah Jose Mujica, presiden Uruguay dijuluki sebagai “el presidente mas pobre” yang bererti presiden termiskin. Ini disebabkan presiden yang berusia 77 tahun ini menyumbangkan hampir seluruh gajinya sebagai orang nombor satu untuk rakyat.
 Kepada surat khabar Sepanyol, El Mundo, Jose Mujica mengaku menerima gaji sebesar USD 12.500. Namun ia hanya mengambil USD 1.250 dari gajinya. Alhasil ia pun dianugerahi gelar lain sebagai presiden paling dermawan di dunia.
“Saya baik-baik saja dengan jumlah itu, keraa di Uruguay banyak yang hidup dengan penghasilan yang penghasian yang jauh lebih sedikit dari itu.” tuturnya merendah.
Seperti yang dilansir oleh Yahoo, Jose Mujica juga mengajak isterinya yang merupakan seorang senator untuk melakukan hal yang sama.
Jose Mujica tinggal di rumah pertanian di Montevideo. Selama dirinya menjadi presiden, pengeluaran terbesar yang pernah ia keluarkan adalah pembelian sebuah kereta Volkswagen Beetle, senilai USD 1.945.
Hal positif lain yang patut ditabik di masa kepemimpinan Mujica adalah tingkat korupsi yang paling sedikit di antara negara di benua Amerika Selatan. Lelaki yang merupakan mantan pejuang gerila ini sama sekali tidak memiliki akaun bank ataupun hutang. Meski begitu ia mengaku memiliki satu hal berharga yang tidak boleh dibeli oleh wang, iaitu anjingnya, Manuela.
Diketahui, Jose Mujica bukanlah presiden pertama yang menyumbangkan gajinya. Presiden AS John F. Kennedy, menyumbangkan gajinya, hal serupa juga dilakukan Presiden Herbert Hoover.
Selayaknya hal ini patut di contoh bagi para pemimpin di dalam negeri kita. Pemimpin yang benar-benar mengabdikan diri dan kekayaannya untuk rakyat. Bukan hanya untuk kekuasaan dan harta. (Sumber: myberita.com)

Selasa, 26 Maret 2013

ROKET IRAN

Israel Komentari Peluncuran Satelit Iran

"Iran telah mengalami beberapa kekurangan, tetapi mereka mengatasi masalah tersebut sangat cepat, dan mereka agresif meneliti hal itu (eksplorasi ruang angkasa)."
A+ | Reset | A-
Roket Pembawa Satelit Irantheepochtimes.com
Berita Terkait:

Skalanews - Sebuah surat kabar Israel, Daily Times Israel, Kamis (31/1), melaporkan peluncuran sukses satelit Iran mengirim monyet ke luar angkasa ternyata mengganggu Konferensi Tahunan Gianyar ke-13 di Israel.
"Iran sudah jelas menempatkan dirinya di 10 negara yang memiliki kemampuan untuk mengirim satelit ke orbit. Pastinya adalah bahwa Iran sangat serius tentang hal ini," ujar Jenderal Asaf Agmon, mantan komandan 'Lod Air Force, dan CEO of Israel's Fisher Institute for Air and Space Strategic Studies.' 
"Iran telah mengalami beberapa kekurangan, tetapi mereka mengatasi masalah tersebut sangat cepat, dan mereka agresif meneliti hal itu (eksplorasi ruang angkasa)," katanya menambahkan dalam wawancara itu.
Di tempat berbeda, Perdana Menteri Israel mengakui Israel tidak mampu menghancurkan fasilitas dan program nuklir Iran. Karena itu, ia mengisyaratkan, Israel akan mencari bantuan AS untuk bisa menghancurkan nuklir Tehrean secara penuh.
"Untuk menjadikankan ancaman kredibel, Anda harus bersungguh-sungguh. Artinya, jika sanksi tidak efektif, dan memang sejauh ini tidak efektif, maka Anda akan menggunakan cara lain," kata Netanyahu dalam pidatonya di depan dewan 'American Jewish Committee', sepeti yang dilaporkan, Daily Times Israel, Kamis (31/1).
"Ini adalah tugas yang spesifik, AS mampu melakukannya dengan sempurna, dan kita dapat merusaknya secara signifikan," ujarnya melanjutkan.
Pada 2013 ini, menurut Netanyahu, merupakan tahun keputusan bagi Israel. Karena Iran terus menerus mengupayakan memperoleh uranium cukup tinggi yang diperkaya untuk membuat bom nuklir, meskipun terdapat sanksi. [mad]

Kamis, 10 Januari 2013

KETANGGUHAN IRAN DAN KEGAGALAN AMERIKA SERIKAT MENEKAN IRAN



Lebih dari seabad lalu, Morgan Shuster pernah berseloroh menyebut politik Iran seperti Opera Bouffe. Sebuah opera dengan para pemain yang gonta-ganti kostum begitu cepat dan tidak mudah ditebak. Bagi saya banker Amerika itu tidak sedang bercanda. Ia serius di tengah kebingungannya menganalisis Iran. Itu bukan hanya menimpa Shuster. Betapa banyak para analis dan politikus kecele.
Mungkin, Jimmy Carter perlu ditanya sekedar mengingatkan tentang prediksinya yang meleset mengenai Iran. Lebih dari tiga dekade silam, ketika kedutaan AS di Tehran diduduki para mahasiswa, sang Presiden Paman Sam itu pernah sesumbar, "Tehran akan kita kuasai dalam hitungan jam." Dan Pentagon pun mengirimkan pasukan elit militer terbaiknya dari kapal induk yang diparkir di salah satu negara Arab.
Pada tanggal 25 April 1980, Amerika Serikat melakukan operasi militer dengan sandi Eagle Claw (kadang-kadang disebut juga operasi Blue Light) ini menggunakan Hercules C-130, jenis pesawat tercanggih kala itu. Tapi, tim militer yang dibanggakan tersebut luluh lantak dihantam badai di Tabas, Iran Tengah. Sisanya, melarikan diri tunggang langgang. Misi Gedung Putih gagal, Carter pucat pasi. Amerika merana dipermalukan sebuah negara kecil yang baru saja mendeklarasikan sistem kenegaraan barunya.
Gagal menjalankan operasi militernya sendirian, Washington tidak kehilangan akal. Diktator Irak Saddam Hussein diprovokasi untuk menginvasi Iran. AS pun memasok kebutuhan militer pemimpin rezim Baath Irak itu. Tapi prediksi Barat kembali meleset. Alih-alih bertekuk lutut dan menyerah, Iran dengan bendera barunya "Republik Islam" yang baru seumur jagung justru memberikan perlawanan telak terhadap rezim Saddam Irak yang dibantu negara-negara Barat dan Arab.
Segala cara ditempuh AS untuk menumbangkan Iran yang mengusung Islam sebagai sistem kenegaraannya. Dari operasi militer, lalu meminjam tangan negara tetangga Teheran, hingga mensponsori organisasi teroris semacam Jundullah dan MKO yang terlibat berbagai aksi teror di Iran, semua sudah dilakukan. Tapi tetap saja gagal.  Dan kini, AS memfokuskan serangannya pada embago ekonomi. Sejumlah ekonom Barat memandang langkah ini akan membuat Iran kelabakan. Dengan menutup akses finansial internasional, mereka mengira bisa menghentikan program nuklir Iran. Tapi, Teheran menegaskan tidak akan menghentikannya. "Ini harga mati bung !", kata seorang warga Iran.
Sampai kini pun diskursus akademis tentang Iran bertumpu pada pertanyaan mengapa Iran bisa resisten menghadapi gelombang deras tekanan sanksi internasional. Setidaknya ada empat paradigma melihat masalah tersebut.
Pertama, paradigma ekonomi-politik yang melihat daya resistensi Iran disebabkan adanya sumber daya energi yang sangat besar di negara itu. Betapa tidak, Iran menguasai 12 persen cadangan minyak dunia, dan 17 persen cadangan gas alam dunia. Perekonomian Iran sangat bertumpu pada pendapatan penjualan minyak. Selama emas hitam itu masih mengalir di bumi Persia, maka negara itu akan tetap bertahan.
Paradigma ini dianut banyak kalangan. Washington melancarkan sanksi minyak terhadap Teheran untuk melumpuhkan perekonomian Iran. Tidak hanya itu, AS mengendalikan transaksi finansial internasional dengan membatasi transaksi antara perbankan Iran dan negara lain untuk menyetop pasokan minyak mentah dari Iran ke negara lain.
Tapi menyebut faktor ekonomi politik, terutama sumber daya energi yang melimpah di Iran sebagai faktor resistensi Iran menghadapi sanksi, memiliki sejumlah kelemahan. Benar bahwa faktor ekonomi terutama kekayaan sumber daya alam memberikan pengaruh bagi keberlanjutan sebuah bangsa dan negara. Tapi, ini bukan basis, hanya salah satu faktor yang berdampingan dengan variabel lainnya. Sebab faktor ini masih bergantung pada basis utamanya.
Selain itu, sejumlah negara yang tidak disanksi internasional sebagaimana Iran dan punya sumber daya alam yang melimpah, ternyata tingkat kesejahteraan rakyatnya tidak begitu membanggakan. Zimbabwe misalnya, negara itu berada di urutan termiskin di dunia bersama sejumlah negara Afrika lainnya. Selain mengandalkan pertanian seperti kapas, dan tembakau, serta industri tekstil, negara itu memiliki cadangan emas dan platinum.
Zimbabwe merupakan satu negara dengan catatan rekor inflasi tertinggi di dunia, bahkan pernah mencapai 11,2 juta persen pada Agustus 2008. Zimbabwe juga dikenal sebagai negara yang pernah mengeluarkan pecahan mata uang terbesar di dunia, yakni 100 miliar dolar Zimbabwe.Realitasnya, masalah utama di negara ini bukan soal sumber daya alam, tapi lebih pada tat kelolanya. Konflik internal kerap menjadi masalah besar di "negara gagal" seperti itu.
Fenomena yang sama terjadi di Indonesia yang tidak disanksi. Meskipun tidak memiliki minyak yang melimpah seperti Iran, Indonesia memiliki sumber daya alam seperti emas yang termasuk terbaik di dunia. Namun  emas yang melimpah di Papua itu dikeruk oleh korporasi asing yang sangat merugikan kepentingan nasional bangsa Indonesia sendiri. Kebanyakan rakyat pun tidak menikmati hasilnya. Kesenjangan sosial semakin menjulang. Pembangunan pun berjalan lambat. Segelintir orang dan korporasi asinglah yang menikmati manisnya.
Meletakkan mana yang lebih utama, apakah ekonomi sebagai basis ataukah politik. Namun tetap saja dengan keduanya itu tidak bisa menemukan akar masalahnya. Paradigma pertama ini tidak mampu menggali basis kekuatan Iran hingga bisa resisten menghadapi sebuan asing.
Memandang Iran dengan kacamata Markantilisme, Liberalisme maupun Marxisme di ranah ekonomi politik justru akan mereduksi basis kekuatan ekonomi politik Iran yang sebenarnya. Sebab ketiganya itu bertumpu faham Materialisme yang tidak memberi ruang bagi peran spiritualitas dalam ekonomi dan politik. Meskipun memiliki sejumlah kritik, tapi cara pandang ini sangat detil sehingga paling diterima di kalangan akademis dari paradigma lainnya.
Kedua, paradigma ideologis-teologis memandang kekuatan resistensi Iran menghadapi sanksi internasional timbul dari faktor agama yang dianut mayoritas masyarakat, dan dilembagakan dalam bentuk institusi negara berbentuk Republik Islam. Dukungan lebih dari 98,2 persen suara rakyat Iran dalam referendum untuk menentukkan dasar negara lebih dari tiga dekade silam menunjukkan  besarnya dukungan keyakinan keagamaan rakyat terhadap Republik Islam. Komitmen kolektif inilah yang menjadi kekuatan utama Iran dalam mewujudkan cita-citanya di tengah berbagai tekanan.
Dahulu, tiga puluh tiga tahun yang lalu, kekuatan teologis pula yang menjadi spirit bangsa Iran menumbangkan rezim despotik Shah Pahlevi. Sebelumnya, sebuah fatwa seorang otoritas keagamaan semacam Ayatullah Shirazi bisa melumpuhkan kolonialisme Inggris. Sebuah fatwa haram tembakau yang dikeluarkan Ayatullah Shirazi ketika itu mampu meluluhlantakan imperialisme ekonomi yang begitu mengakar lewat pasar tembakau Inggris di Iran.
Dalam perjalanannya, kekuatan imanlah yang membawa orang-orang Iran yang sebagian besar anak-anak muda maju ke medan perang melawan invasi Irak, dalam perang yang mereka sebut "Pertahanan Suci" selama delapan tahun. Seorang Hussein Fahmideh yang masih belia rela meregang nyawa digaris depan pertempuran demi membela bangsa dan negaranya dari serangan musuh. Saat inipun, spirit religiuslah yang membuat rakyat Iran tegar menghadapi berbagai gelombang yang menghantam.
Paradigma kedua ini menukik lebih dalam dari yang pertama, karena berhasil mengungkap pengaruh faktor-faktor non materi dalam menemukan basis resistensi Iran menghadapi badai serangan. Kelebihannya bisa merumuskan soft power dengan menurunkan nilai-nilai normatif. Namun kekurangan paradigma ini terletak pada sisi normativitasnya yang general, berhadap-hadapan, dan dalam beberapa bagian cenderung apologetik dan acapkali hitam putih.  
Ketiga perspektif kultural yang melihat faktor budaya dan peradaban sebagai basis kekuatan Iran dalam menghadapi beragam tekanan asing. Warisan budaya dan peradaban Persia yang kaya menjadi modal bagi Iran untuk berdiri tegar di tengah badai serangan musuh. Khazanah kebudayaan dan peradaban Persia dan Islam di Iran menjadi sebuah modal dasar yang penting bagi bangsa Iran dalam meraih kemajuan di pusaran sanksi yang semakin masif.
Paradigma ini mampu menangkap soft power Iran tentang mentalitas yang menjadi kekuatan utama dan modal terbesarnya. Perspektif ini juga mengorek upaya pemerintah Iran untuk menumbuhkan nilai-nilai kolektif sebagai modal dasar berbangsa dan bernegara demi kepentingan nasional. Sejumlah karya Faucault tentang Iran menggunakan perspektif ini. Paradigma tersebut memberikan pengayaan pada dua pendekatan sebelumnya. Tapi pendekatan ini juga memiliki sejumlah kelemahan. Asumsi teoritis dalam frame kebudayaan dan peradaban yang dipahami peneliti terkadang mempengaruhi cara bacanya terhadap objek. Misalnya ketika Faucault menyebut Revolusi Islam menghantam struktur modernisme, dia melihatnya dari kacamata seolang Postmodernis yang mengkritik apapun tentang Modernisme.
Keempat, paradigma filosofis bekerja memberikan peta tentang masalah yang dihadapi. Pendekatan yang digunakan adalah perspektif filosofis. Cara kerjanya seperti helikopter yang melihat dari atas dan memotret masalah dalam kacamata universal. Jika paradigma pertama dan ketiga mengadopsi frame work tertentu yang masuk dalam disiplin ilmu, perspektif keempat ini justru berupaya melepaskan dan membebaskannya. Misalnya, paradigma ekonomi-politik tidak memberi ruang pada dimensi non-materi seperti spiritualitas dalam ekonomi dan politik. Begitu juga, paradigma filosofis melepaskan bias pada asumsi teologis paradigma kedua yang melihat masalah dalam dimensi hitam putih dari kacamata mazhab.
Sumbangsih penting paradigma keempat bagi paradigma budaya adalah mengeluarkan asumsi-asumsi sosial semacam teori sosiologi Comte, dan lainnya yang cenderung positivistik dalam memandang fenomena budaya. Selain itu, paradigma filosofis bisa menjangkau basis pemikiran yang lebih dalam dari ketiga paradigma lainnya. Perspektif ini juga bertugas menembus realitas menyingkap sekat-sekat yang tertutup keangkuhan teori Mainstream dalam disiplin ilmu. Kekurangan paradigma ini adalah pada cara pandangnya yang general dan tidak detil. Berhenti pada pada paradigma keempat ini hanya akan membawa kita pada menara gading.    
Sejatinya, setiap paradigma memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Yang perlu dilakukan saat ini adalah menerapkan pendekatan integralistik dengan meletakkan masing-masing pada kavlingnya sendiri-sendiri. Paradigma integralistik ini pernah diulas dalam bentuk yang hampir mirip oleh Muthahhari dalam karyanya, "Jahan Bini Islam" (Pandangan Dunia Islam)".
Pada kasus resistensi Iran menghadapi berbagai tekanan Barat, analisis dilakukan dengan menggali fakta-fakta ekonomi, politik budaya dan teologis. Tugas filsafat merangkai dan merumuskan basis pijakan universal dari ketiga paradigma itu. Rumusan nilai-nilai teologis yang normatif dan karakter budaya nasional Iran berbijak di atas fondasi "Nasionalisme Religius". Inilah sumbangan pendekatan integralistis dalam memandang Iran. Jika Shuster bicara tentang fragmen Opera Bouffe yang membingungkan, pendekatan integralistik melihat skenario dari awal hingga akhir, bukan hanya kostum atau akting para pemainnya saja yang gonta-ganti dan berpindah-pindah. Bak Opera Bouffe, memandang Iran sepenggal-penggal hanya akan melahirkan analisis yang menjerat dan membingungkan. Paradigma integralistik menawarkan solusinya.(IRIB Indonesia/PH)

Jumat, 10 Agustus 2012

PERKULIAHAN KARYAWAN: S1 EKONOMI DAN S2 EKONOMI ISLAM, BIAYA TERJANGKAU. HUBUNGI: 085814342841


                        Gedung tempat kuliah S1 dan S2 (Hubungi: 085814342841)

IRAN SIAP EKSPOR TEKNOLOGI MILITER KE NEGARA LAIN

Pejabat militer Iran, Brigadir Jenderal Hossein Valivand, mengkonfirmasikan kesiapan Republik Islam mengekspor teknologi militernya kepada negara sahabat dan sekutunya. Dalam wawancaranya dengan IRNA, Valivand menyebutkan Iran siap transfer teknologi militer.
"Salah satu prestasi terbesar dan paling penting Fakultas Komando Militer dan Staf Umum Iran (DAFOS AJA) adalah ilmu militer dan taktis di dalam negeri Iran," kata Valivand.
DAFOS saat ini fokus mengubah studinya dari teks-teks Barat beralih ke materi lokal. Kurikulum Fakultas DAFOS disusun berdasarkan pengalaman dari perang delapan tahun Iran melawan agresi rezim Baath Irak. Berbagai operasi militer di wilayah selama tiga dekade terakhir juga menjadi bahan rujukan kurikulum.
Dalam beberapa tahun terakhir, klaim Valivand, Iran telah mencapai prestasi besar di bidang pertahanan. Bahkan, Iran meraih swasembada dalam produksi perangkat keras militer penting dan sistem pertahanan.
Meski demikian, Republik Islam berulang kali menekankan kepada semua pihak bahwa kekuatan militernya bukan merupakan ancaman bagi negara-negara lain. Hal ini mengingat doktrin pertahanan Republik Islam Iran berdasarkan pada asas pencegahan. (Sumber: Republika.com)

Minggu, 05 Agustus 2012

TEKNOLOGI IRAN

             Gedung tempat kuliah S1 dan S2 untuk karyawan yang super sibuk

                                           (Hubungi: 085814342841)

Kemajuan Iran Menggetarkan Dunia!

Eramuslim.com adalah salah satu situs wahabi dan termasuk situs yang gigih menyebarkan fitnah dan dusta tentang Syi’ah di tengah Ummat, kali ini entah karena kurang jeli dan teliti atau karena ada kesalahan di tingkat para jurnalisnya disadari atau tidak telah memuat sebuah berita tentang kemajuan Republik Islam Iran dan selamat membaca !!!
Jurnal Newscientist edisi Kamis (18/2) memuat hasil penelitian Science-Metrix, sebuah perusahaan di Motreal, Kanada yang melakukan evaluasi atas perkembangan dan produk ilmu pengetahuan serta teknologi di berbagai negara. Dalam laporan hasil penelitiannya, Science-Metrix menyebutkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan negara-negara lainnya di dunia.
Perusahaan itu mengamati adanya “pergeseran geopolitis dalam bidang ilmu pengetahuan dan karya” yang dihasilkan negara-negara di dunia. Menurut Science-Metrix, banyaknya karya-karya ilmiah yang dimuat di Web of Science menunjukkan bahwa standar pertumbuhan karya ilmiah di Timur Tengah, khususnya di Iran dan Turki, nyaris mendekati angka empat kali lebih cepat dari rata-rata pertumbuhan di dunia.
“Iran menunjukkan pertumbuhan yang paling cepat di dunia dalam bidang ilmu pengetahuan. Asia terus mengejar, bahkan lebih cepat dari yang kami pekirakan sebelumnya. Eropa mempertahankan posisinya lebih dari yang diharapkan, dan Timur Tengah adalah kawasan yang patut diperhatikan,” kata Eric Archambault yang menulis laporan Science-Metrix.
Ia mengatakan, publikasi karya-karya ilmiah dari Iran kebanyakan tentang kimia nuklir dan tentang fisika partikel. “Iran juga mengalami kemajuan pesat di bidang ilmu kedokteran dan pengembangan pertanian,” tukas Archambault.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi di Iran pada tahun ini sangat cepat bahkan melampaui negara China yang oleh dunia diakui cemerlang dalam bidang sains .
Meski lebih dari 30 tahun diembargo Barat, Iran telah melakukan langkah besar di berbagai sektor, termasuk sektor ruang angkasa, nuklir, kedokteran, penelitian tentang sel dan kloning. Tanggal 2 Februari kemarin, Iran berhasil meluncurkan satelit yang diberi nama Kavoshgar 3 ke ruang angkasa. Satelit itu membawa berbagai organisma hidup seperti tikus, dua ekor kura-kura dan cacing untuk keperluan penelitian.
Sebelumnya, di bulan Januari, Iran menjadi negara pertama di Timur Tengah yang mampu mengembangbiakkan hewan ternak transgenik, seperti domba dan kambing. Iran juga tercatat sebagai salah satu negara dari sedikit negara yang berhasil mengembangkan teknologi dan perangkat untuk mengkloning hewan ternak yang bisa digunakan untuk keperluan penelitian di bidang kedokteran dan untuk memproduksi zat antibodi manusia untuk menangkal penyakit.
Anak domba bernama Royana dan dua sapi bernama Bonyana dan Tamina adalah hewa-hewan hasil kloning pertama di Iran. (ln/prtv)
Catatan Redaksi: OKI Nobatkan Iran Sebagai Poros Teknologi Negara-Negara Islam, Di saat negeri-negeri muslim lain mengalami keterbelakangan, bergolak dan mengalami krisis identitas tetapi Iran justru menunjukkan harga diri sebagai negeri muslim yg maju, mandiri, gandrung akan pengetahuan dan teknologi dan senantiasa dalam naungan Ilahi, sesungguhnya pertolongan hanya dari Allah dan kemenangan sudah semakin dekat…
(http://www.eramuslim.com/berita/dunia/perkembangan-ilmu-pengetahuan-di-iran-tercepat-di-dunia.htm%3C/em%3E)

Kemajuan Iran Lima Kali Lipat dari yang Ditunjukkan kepada Dunia

Menimbang berbagai pencapaian Iran yang seakan-akan tersembunyi dari pantauan dunia, maka semakin dapat disimpulkan bahwa kemajuan ilmuwan Iran sesungguhnya lima kali lipat dari apa yang ditunjukkan ke dunia saat ini.
Dunia akan menyaksikan beberapa minggu atau bulan lagi, ilmuwan-ilmuwan Iran akan menampilkan kemajuan-kemajuannya dalam riset dan penemuan baru, dalam berbagai bidang tentunya, bukan hanya kemampuan ilmuwan iran memperkaya uranium 20 %, tetapi masih banyak lagi. Sekali lagi, semua itu diperoleh di saat Iran dalam posisi dijatuhi sanksi sepihak oleh Barat.
Iran merupakan negara yang selama 31 tahun menerima sanksi Embargo sepihak oleh Barat, di mana dalam sanksi tersebut Iran seolah dikucilkan dari pergaulan dan hubungan internasionalnya.
Fenomena Nuklir Iran yang sudah beberapa tahun ini menjadi headline berita-berita dunia, menjadi landasan penerbangan berbagai kemajuan para ilmuwan dalam negeri Iran, yang tentunya semua atas bantuan dan kerjasama dengan pihak luar juga, terutama Rusia.. Berbagai kemajuan dan aneka kehebatan Iran selama tiga dekade ini, sekali-sekali dipamerkan ke dunia internasional.
Ahmadinejad. Tidak asal bicara
Seperti dugaan penulis sebelumnya, bahwa gembar-gembor Ahmadinejad rupanya memang berdasar dan tidak asal “ngoceh” di hadapan masyarakat internasional. Keberanian Ahmadinejad tidaklah keberanian tanpa pertimbangan seandainya ada pihak yang tidak suka dan melakukan pre-emtive strike. Semua dilandasai oleh berbagai ciptaan-ciptaan ilmuwan Iran yang terhitung sangat cepat di luar dugaan.
Dalam berbagai bidang Iran menunjukkan grafik naik yang cukup menggetarkan dan melambung melampaui negara-negara berkembang lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah makalah ilmiah para ilmuan Iran yang berhasil diterbitkan oleh berbagai majalah dan media ilmiah ternama dunia kian meningkat. Keberhasilan di bidang ini merupakan salah satu indikator kemajuan sains di setiap negara. Ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap secara obyektif namun sebagian masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuan Iran.
Saintis di bidang teknologi nano juga mengalami kemajuan pesat, sehingga teknologi yang rumit ini sekarang sudah banyak membantu menciptakan berbagai komoditas. Kemudian di bidang lainnya, saintis Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca. Prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca.
Di bidang kedokteran ada penciptaan obat IMOD, berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh menghadapi virus AIDS. Keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia. Pada tanggal 3 Februari yang lalu, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi.
Bidang pertahahan Iran juga sudah menerima alokasi berbagai kreasi saintis dalam negeri Iran, dari pesawat tak berawak, kapal selam, berbagai jenis rudal, tank-tank perang, pesawat tempur, yang kemuanya diciptakan oleh sebagian sebagian besar ilmuwan Iran. Di bidang robotik, Iran juga tidak ketinggalan dengan Jepang dan Barat. Kemudian teknologi Roket dan Satelit juga ikut andil dalam memajuka Iran.
Antiklimaks ilmuwan Iran adalah kemampuan memproduksi senjata nuklir sendiri, dengan sedikit bantuan teknis dari Rusia.. Kemampun ilmuwan dalam negeri Iran memproduksi uranium diperkaya secara mandiri inilah yang benar-benar mengkhawatirkan Barat, serta Israil yang sebenarnya disebabkan oleh Israil sendiri yang suka “sembrono” menyerang negara di timur tengah yang dianggap sedang mengupayakan senjata nuklir, seperti serangan Israil terhadap reaktor nuklir Suriah.
Dunia semakin jengkel dengan kemajuan Iran, sampai kemudian muncul sanksi PBB yang disetujui Barat, Eropa, dan mayoritas anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB (mayoritas anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB ini diduga karena ditekan Barat agar mendukung sanksi anti-Iran).
Kemudian tanggal 21 Agustus 2010 yang lalu merupakan hari bersejarah bagi bangsa Iran, saat reaktor PLTN Bushehr beroperasi pada saat sanksi sepihak diberlakukan Barat dan Eropa. Tidak seperti Israel, Iran adalah penandatangan nuklir Non-Proliferasi Treaty (NPT) dan telah berulang kali menyatakan bahwa program nuklir berada dalam kerangka dari Statuta dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), sehingga apapun kondisinya, maka semuanya menjadi blunder yang “membingungkan” Barat sendiri. Walaupun sebenarnya itu hanya masalah paranoid saja, dan tidak ada dasar mengkhawatirkan dari Iran, yang sedari awal disampaikan bahwa Nuklir Iran murni sebagai pesan damai untuk umat manusia.
Menimbang berbagai pencapaian Iran yang seakan-akan tersembunyi dari pantauan dunia, maka semakin dapat disimpulkan bahwa kemajuan ilmuwan Iran sesungguhnya lima kali lipat dari apa yang ditunjukkan kepada dunia.
Dunia akan menyaksikan beberapa minggu lagi, ilmuwan-ilmuwan Iran akan menampilkan kemajuan-kemajuannya dalam riset dan penemuan baru, dalam berbagai bidang tentunya, bukan hanya kemampuan ilmuwan iran memperkaya uranium 20 %, tetapi masih banyak lagi. Sekali lagi, semua itu diperoleh di saat Iran dalam posisi dijatuhi sanksi sepihak oleh Barat.
Survei yang dilakukan oleh Universitas Maryland di Mesir, Arab Saudi, Jordan, Maroko, Lebanon, dan Uni Emirat Arab munjukkan bahwa 88 persen responden menilai Israel sebagai ancaman. 77 persen lainnya juga meyakini bahwa Amerika sebagai ancaman keamanan.
Ketika masyarakat di kawasan ditanya soal pendapat mereka seandainya Iran memiliki senjata nuklir, mayoritas berpendapat bahwa senjata nuklir yang dimiliki oleh Iran pasti akan demi kebaikan Timur Tengah.
Sumber :
http://berita.liputan6.com/luarnegeri/201008/292523/PLTN.Iran.Mulai.Beroperasi
http://web.bisnis.com/umum/politik-internasional/1id202447.html
http://hankam.kompasiana.com/2010/08/22/kemajuan-iran-lima-kali-lipat-dari-yang-ditunjukkan-kepada-dunia/

Ahmadinejad: Musuh-musuh Peradaban Takuti Kemajuan Iran
“Iran, yang saat ini maju di bidang ekonomi dan ilmu pengetahuan serta teknologi, akan menjadi hambatan besar terhadap kekuatan arogan dan hegemonik di dunia ini,” kata Ahmadinejad.

Teheran, PelitaOnline – Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, Senin (13/02), bahwa musuh-musuh Peradaban takut melihat kemajuan Iran yang sangat kaya dengan sejarah, budaya dan peradaban.
“Semua upaya dilakukan oleh musuh-musuh peradaban ditujukan untuk menghambat kemajuan Irankarena mereka takut melihat pembangunan yang saat ini sedang berjalan di negara kita,” kata Presiden Ahmadinejad usai meresmikan enam proyek konstruksi di tenggara propinsi Sistan dan Baluchestan.
Ia menambahkan bahwa Iran, yang saat ini maju di bidang ekonomi dan ilmu pengetahuan serta teknologi, akan menjadi hambatan besar terhadap kekuatan arogan dan hegemonikdi dunia ini.
Presiden Iran lebih lanjut mengatakan bahwa kekuatan arogan mendapatkan minyak dari negara-negara di wilayah Iran dan sebagai imbalannya memberi mereka puluhan miliardolar persenjataan.
Presiden Ahmadinejad juga memperingatkan bahwa musuh-musuh peradaban menjual senjata mereka kepadanegara-negara di Teluk Persia untuk menghasut dan menciptakan perselisihan diantara mereka. Lebih jauh mereka mempersiapkan diri untuk melakukan eksploitasi terhadap kekayaan alam di negeri itu.
Dia menegaskan pentingnya memperkuat perlawanan terhadap berbagai kekuatan arogan yang menjajah martabat dan kesejahteraan bangsa lain.
(Sumber:http://www.pelitaonline.com/read/politik/internasional/16/13124/ahmadinejad-musuh-musuh-peradaban-takuti-kemajuan-iran/)